Plagiarism Scan Report

Report Generated on: Oct 02,2022

0%
Plagiarized Content
0%

Exact Plagiarized

0%

Partial Plagiarized

100%
Unique Content
Total Words: 896
Total Characters: 6133
Plagiarized Sentences: 0
Unique Sentences: 37 (100%)
Content Checked for Plagiarism
Los Santos, pada tanggal 29 December 2000, di tengah padatnya kota dengan suara bising milik para kendaraan, seorang pria bernama Ling Shen baru saja mendapat kabar bahagia tentang kelahiran anaknya yang telah diberi nama Ghani Shen. Dengan langkah tergesa-gesa, Ling Shen yang mendengar kabar tersebut pun segera meninggalkan pekerjaannya, dan pergi menuju rumah sakit untuk menemui istrinya, Mimi. Ghani yang lahir dengan memiliki tampang muka yang tampan itu pun membuat Ling dan Mimi tersenyum bahagia melihat anak lelaki pertama mereka. Tiga tahun sudah berlalu, Ghani yang dulunya masih belum bisa berbicara kini sudah bisa melontarkan kata pertama dari mulutnya, "Mama". Tiga tahun yang hebat juga bagi Ling dan Mimi menempuh perjalanan hidup bersama, disertai pengalaman yang begitu beragam, dari kebangkrutan toko roti milik Mimi hingga menurunnya gaji bagi pekerja buruh seperti Ling Shen disana.

Seiring berjalannya waktu, Ghani sudah bertumbuh besar menjadi anak yang baik, pintar, dan rajin. Ia juga sudah beberapa kali memenangkan lomba ketika ia masih berumur 8 tahun, banyak guru yang bangga kepada Ghani atas prestasinya, begitu pula kedua orang tua Ghani (Ling Shen dan Mimi) yang senang melihat anaknya sudah bisa berprestasi sedari kecil. Mereka (kedua orang tua Ghani) merasa tak gagal telah mendidik Ghani agar kelak menjadi anak yang pintar serta berbakti kepada mereka. Kini, Ghani berumur 12 tahun yang artinya ia masih mendudukki bangku Sekolah Dasar, dan takdir pun masih menguji Ling Shen dan Mimi agar tetap berusaha keras untuk menjalani alur kehidupan. Perekonomian keluarga mereka menurun drastis dari bulan kemarin-kemarin, dan itu membuat Mimi sering sakit akibat pusing memikirkan bagaimana cara agar mereka bisa bertahan hidup dengan ekonomi yang dibilang kurang bagi mereka bertiga untuk hidup. Ghani yang sering mendengar bahkan melihat kedua orang tuanya bertengkar akhir akhir ini pun menjadi malas untuk pulang kerumah setelah pulang sekolah, ia berpikir ingin ikut bekerja agar perekonomian keluarganya bisa stabil kembali. Tapi, ia juga berpikir bahwa dirinya masih seorang anak kecil, mana bisa dirinya melamar untuk berkerja.

Langkahya masih lunglai untuk berjalan, rasanya sangat malas pulang ke rumah dengan suasana yang tidak menyenangkan bagi Ghani, di setiap jalannya, Ghani hanya bisa termenung dan memikirkan cara bagaimana agar bisa membantu masalah perekonomian keluarganya itu, hingga tak sadar dirinya menabrak seorang gadis kecil seumuran dirinya. Ghani meminta maaf, gadis itu pun hanya mengiyakan lalu pergi meninggalkan Ghani. "Alqy..." ucap Ghani dalam hati yang sempat melihat nametag gadis tersebut. Belum ada beberapa langkah, tiba tiba Ghani melihat kertas lowongan kerja terpempel di tiang listrik, diposter tersebut mengatakan bahwa ada seorang pengusaha yang membutuhkan karyawan wanita yang bisa membuat roti, terlintas begitu saja Ghani ingat mamanya. Ghani tersenyum senang, langkahnya berubah menjadi cepat, bisa dibilang ia berlari untuk cepat sampai rumah dan memberikan poster lowongan kerja kepada mamanya, ia sudah membayangkan mamanya akan senang mendapat poster tersebut. Benar nyatanya, setelah Ghani memberikan poster tersebut, Mimi langsung memeluk erat Ghani begitu saja, tak lupa ia mencium kening anak semata wayangnya itu dengan mengucapkan "Terimakasih anakku..., terimakasih, kamu sangat membantu mama kali ini" disertai air mata yang sudah mengalir entah kapan dan keluar begitu saja dari mata Mimi.

Hari demi hari terus berlalu, setelah kejadian Ghani menemukan poster loker untuk mamanya, masalah perkenomian keluarga Ghani sudah membaik, Ling Shen dan Mimi tak pernah bertengkar lagi, rasa syukur begitu besar mereka rasakan karena telah memilikki anak berbakti seperti Ghani. Tahun 2013, Ling Shen dan Mimi dikaruniai anak perempuan dan diberi nama Daisy Shen, Ghani sangat senang, karena ia bisa mempunyai adik, ia juga sangat menyayangi adiknya. Masa-masa SMP Ghani pun dilalui dengan penuh suka cita, ia sering membantu mamanya menjual roti buatan mamanya dan ia titipkan pada ibu-ibu penjual kantin di sekolah, dan semua itu tak membuat Ghani malu melakukannya, justru Ghani merasa bangga bisa membantu mamanya menjual roti, buktinya dagangannya selalu laris habis tak tersisa. Prestasi yang dimilikki Ghani juga tak di biarkan begitu saja, ia terus mengikuti lomba-lomba dan seringkali mendapatkan juara. Tepat di umur Ghani yang ke 21 tahun, ia sudah menjadi pengusaha muda yang sukses dan memiliki banyak cabang perusahaan, berkat prestasinya pula ia bisa melanjutkan kuliah dengan beasiswa yang didapatnya waktu SMA. Adiknya Daisy kini masih menjadi siswi di SD, dan kedua orang tuanya, Ghani biarkan untuk tidak boleh bekerja, alasannya logis saja karena sudah tua, lagipula Ghani sudah bisa membantu untuk keperluan kedua orang tuanya dan adik satu-satunya itu. Sepanjang perjalanan hidup yang telah Ghani lalui, Ghani tak pernah telat untuk selalu bersyukur kepada-Nya karena telah memberikan kekuatan, keikhlasan, serta kesabaran terhadap dirinya dan kedua orang tuanya ketika diberi cobaan yang begitu besar.

Ghani menghembuskan nafasnya lega, menatap bangunan di depannya yang tampak begitu kokoh serta terlihat megah. Ya, itu rumah barunya yang baru saja ia beli pada bulan Maret, dan sekarang di bulan April dia sudah bisa menempatinya, Ghani menoleh kebelakang mendapati kekasih halalnya yang sedang menatap kagum rumah tersebut, dihampirinya ia lalu Ghani merangkul pundak istrinya itu, mengisyaratkan agar ikut masuk ke dalam melihat rumah barunya itu. Ghani sudah menikah tahun lalu, pertemuan sepasang suami istri itu pun sungguh singkat namun bermakna, karena merasa cocok dan bisa untuk membangun rumah tanga bersama, Ghani memutuskan untuk meminang Alqy, gadis yang pernah ia temui sewaktu ia kecil tanpa sengaja, dan siapa sangka takdir mempertemukan mereka untuk bisa bersama menjadi pasangan hidup. Damai, menghadapinya dengan diiringi doa serta usaha, benar adanya bisa membuat kehidupan lebih bermakna dan terasa prosesnya, begitu juga yang Ghani rasakan dulu sehingga kini bisa bahagia tanpa ada kata jeda.
unique content
No Plagiarism Found

AS SEEN ON:

You May Like Our Most Popular Tools & Apps
Subscribe to our Newsletter & Stay updated